Senin, 15 Februari 2016

For someone

Ini adalah malam ke 60.
Aku tetap saja merindumu, sejak pertama bertemu.
Sedang apa kau disana?
Bagaimana caranya agar kau juga merasakan, rindu ini?
Menggebu dadaku, memikirkan dikau.
Hanya khayalku, setia menemani, setiap malam kerinduan.

Kumohon angin, sentuhlah bibirnya,
Kumohon malam, rayu dia ‘tuk ucapkan,
Agar ku tahu pasti, bahwa ia juga membalas rinduku.
Ku harap sayup-sayup langit,
Ku harap kerlap-kerlip bintang,

Menggoda dikau yang sedang tertidur, pulas.

Sunyi

Sunyi. Malam ini sunyi. Kehampaannya mengusap hatiku yang resah. Entahlah, seperti bercak yang sulit sekali hilang. Keresahan ini merambat lirih menjamahi seluruh badan dan isi kepalaku. Semenjak itu, aku bersusah payah mengendalikan diriku, perasaanku. Hatiku jadi mudah terenyuh, rapuh. Bagian-bagian dalam hatiku serasa melapuk perlahan. Namun, aku masih saja menahannya sekuat tenaga.
Harus bagaimana aku menjelaskan bahwa hatiku saat ini terasa piluh? Tapi, kabar baiknya, aku masih menyimpan teguh harapan-harapanku. Harapan yang akan selalu menjadi penerang ketika hatiku menemui jalan gelap. Akan terus berjalan, bergandengan dengan keyakinan.